Menulis Artikel Harus Enak dan Gurih! Kenapa?


Enak dan gurih memang identik dengan makanan. Tapi kita akan coba memahami makna tulisan dari perspektif masakan.

Jika diibaratkan makanan, maka artikel semestinya bisa jadikan produk makanan yang enak dan gurih untuk di konsumsi. Semakin enak dan gurih sebuah artikel, maka semakin tinggi gairah kita untuk menikmatinya samapai habis dan benar-benar bersih dari wadah sajiannya. Bahkan kalau nafsu makannya masih tinggi, tapi perut sudah penuh, kita bisa membungkusnya untuk di bawah pulang.

Kebayang dong, jika masakan itu dibuat oleh anda? Pasti para pembaca akan ketagihan terus dan tak ingin meninggalkan blog anda sedetikpun. Wow.. impian sejuta blogger! Tentu saja harus di dukung dengan kemampuan meramu dan mengemas menu artikel agar lebih sedap dan mengundang selera untuk di lahap.

Kalau blog kita kemas sebagai rumah makan bagi penikmat artikel maknyus ala pak bondan, tentu kita harus siap dengan sajian yang terjamin cita rasanya. Kalau cita rasanya hambar dan tidak fresh, tentu saja, para penikmat kuliker (kuliner arikel) tidak akan datang untuk kedua kalinya. Cukup sekali untuk selamanya.

Jika artikel enak di baca, bisa menyentuh emosi dan mengundang selera baca yang hebat. Maka tentu pembaca pertama akan merekomendasikan orang lain untuk ikut menikmati apa yang sudah ia rasakan. Promosi link sudah pasti kita dapat secara ikhlas, suka rela dan penuh kejujuran. Jadi daya tarik utama rumah makan blog, bisa di pastikan peranan yang cukup dominan memainkan peran adalah RASA dari artikel itu sendiri. kemasan dan promosi hanyalah pelengkap. Mirip dengan pecinta kuliner yang rela masuk ke pelosok gang-gang hanya untuk menikmati soto terenak di Jakarta, misalnya begitu.

Jadi walaupun blog kita tampilannya biasa-biasa saja, tapi kualitas artikel yang disajikan mengundang selera yang luar biasa, maka bukan tidak mungkin blog anda akan dijadikan sandaran favorit bagi penikmat “kata-kata bermakna..”

Sekarang yang jadi masalah, bagaimana mengemas semua itu dalam bentuk nyata. Membuat artikel yang enak, gurih, dan selalu di rindukan? Kayaknya itu pertanyaan sejuta penulis deh. Termasuk saya! Pertanyaan it terus saya pelihara dalam aktifitas menulis selama ini.

Selama ini, pelajaran menulis saya peroleh dari proses yang alami saja. istilah kerennya, otodidak. Belum pernah mengecam pendidikan khusus di bidang penulisan. Hanya memanfaatkan fasilatas internet. Membaca kiat-kiat dan tips-tips seputar penulisan. Disamping bacaan wajib saya selama ini seputar politik, sosiologis dan filsafat. Dan sekarang sudah mulai di netralisir dengan bacaan seputar motivasi dan ilmu terapan.

Alhamdulillah, kesenangan membaca terus saya pupuk dan tumbuhkan agar menjadi kebiasaan yang menjadi karakter diri. Konon makanan pokok penulis adalah membaca.

Kebiasaan membaca akan memperkaya kosa kata dan pendefinisian tentang makna-makna. Semua itu akan menjurus pada pembentukan ide-ide, kita akan belajar mendeskripsikan suatu peristiwa dalam perspektif yang lebih dinamis, kreatif dan solutif. Membaca dan menulis adalah perpaduan yang sangat serasi untuk menerbitkan suatu pemikiran baru untuk diri sendiri.syukur-syukur bisa di tebarkan dan bermanfaat bagi orang lain.

Menulis artikel yang enak, gurih dan nikmat untuk di konsumsi, tentu kita perlu mencoba resep-resep tulisan. Kombinasi kosa kata, meramunya dalam campuran makna yang bermakna multi interpertasi bisa kita upayakan dengan talenta yang harus terus dilatih.

Karena ini menyangkut kegurihan dan rasa enak. Maka analogi yang pas adalah menggunakan logika koki. Yah! penulis mirip dengan koki. Sama-sama ingin menyajikan produk yang layak untuk di konsumsi. Kalau koki menyajikan makanan, penulis menyajikan tulisan. Sama-sama ingin produknya di senangi, dan di gemari banyak orang. Sekarang masalahnya, seberapa berani kita meramu bumbu-bumbu makna yang kita ketahui selama ini?

Jadi intinya, menjadi penulis yang hebat, yang bisa menghasilkan tulisan gurih, maka kita harus berfikir menggunakan logika seorang koki. Dan harus sering-sering masak, supaya aroma tulisannya terus menghantui diri sendiri dan menghisap selera pembaca.

Ayo… siapa yang suka masak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: